Month: December 2020

Alasan Perusahaan Global Memindahkan Kantor Pusat Ke Berbagai Penjuru Dunia

Alasan Perusahaan Global Memindahkan Kantor Pusat Ke Berbagai Penjuru Dunia

Sejak referendum Inggris soal Uni Eropa pada 2016, perusahaan-perusahaan terkenal telah mengumumkan keputusan untuk memindahkan domisili perusahannya ke luar Inggris. Raksasa elektronik Panasonic telah pindah ke Amsterdam, Sony juga akan segera menyusul. Perusahaan perkapalan P&O akan mengalihkan pendaftaran kapalnya ke Siprus, sementara perusahaan teknik Dyson memindahkan kantor pusat perusahaannya ke Singapura.

Tidak ada yang baru tentang bisnis besar yang memindahkan kantor pusat perusahaan mereka. Pada 2003, Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan menyambut hadirnya pasar dunia untuk kemungkinan seperti itu. Dan bahkan banyak perusahaan yang merupakan ikon dari Amerika telah memutuskan untuk memindahkan kantor pusatnya, termasuk Burger King (ke Kanada), Budweiser (ke Belgia), dan Lucky Strike (ke Inggris). Jadi mengapa mereka melakukannya? Dan apa manfaat dari perpindahan ini?

Salah satu alasan paling jelas dan meyakinkan untuk pindah adalah keinginan untuk meningkatkan laba. Ada keringanan pajak besar terkait dengan menjadi badan hukum yang terdaftar di negara yang digadai-gadai sebagai ‘suaka pajak’. Irlandia, Swiss, dan Panama telah menarik semua investasi semacam ini.

Namun langkah seperti ini tidak luput dari potensi timbulnya biaya tambahan. Perusahaan berisiko merusak reputasi mereka termasuk tuduhan penghindaran pajak dan perilaku tidak etis, sementara negara-negara tempat mereka berpindah menghadapi peningkatan pengawasan.

Alasan lain untuk pindah adalah untuk menempatkan bisnis di pusat keuangan utama seperti London, New York, Frankfurt atau Hong Kong. Perusahaan yang melakukan ini dapat dimotivasi oleh peluang yang lebih baik untuk meningkatkan modal dan memiliki akses ke talenta pekerja yang sangat terspesialisasi. Langkah semacam ini sangat populer di kalangan bisnis dari negara berkembang karena menunjukkan komitmen terhadap standar hukum dan praktik bisnis yang kuat. Ini dapat meningkatkan reputasi mereka (dan selanjutnya, kinerja).

Selain itu, bisnis kadang-kadang berpindah sebagai akibat dari proses akuisisi. Ketika sebuah perusahaan dibeli oleh perusahaan lain, lokasi perusahaannya dapat beralih ke lokasi perusahaan pembeli – inilah yang terjadi ketika Budweiser pindah ke Belgia, setelah diakuisisi oleh InBev.

Namun terlepas dari semua motif ini untuk pindah, bagi banyak perusahaan multinasional tidak ada tempat yang lebih nyaman seperti ‘rumah’. Ini bisa jadi karena dari sanalah pendiri berasal, dan di mana mereka berhasil memberikan solusi untuk masalah bisnis yang ada di negara itu – di mana seluruh ekosistem penting untuk mendirikan bisnis ada, dan di mana para pemangku kepentingan utama berada.

Jadi ketika relokasi kantor pusat perusahaan terjadi, seperti dalam kasus Dyson dan P&O, faktor-faktor pendorong mungkin juga ikut berperan. Beberapa perusahaan memutuskan untuk pindah ketika ekosistem negara asal yang membuat mereka kompetitif pada awalnya rusak, dan keuntungan yang dirasakan dari pasar rumah baru lebih tinggi daripada keuntungan yang dirasakan dari negara asal mereka.

Di sinilah Brexit jelas mempunyai efek yang penting bagi banyak bisnis yang memiliki kantor pusat perusahaan di Inggris. Ketika ketidakpastian melanda, ketika ada kekhawatiran tentang menarik talenta pekerja, ketika rezim legislatif tidak jelas dan kualitas layanan yang tersedia berada di bawah ancaman, masalah lokasi kantor pusat suatu perusahaan menjadi menonjol.

Mengapa Hal Ini Menjadi Sebuah Masalah?

Dampak ekonomi dari relokasi bervariasi. Beberapa kantor pusat perusahaan memiliki fungsi yang sangat terbatas dan hanya sedikit staf, sementara yang lain adalah perusahaan yang lebih besar, sehingga potensi kehilangan pekerjaan akan berbeda dari kasus ke kasus. Namun demikian, pekerja yang direlokasi biasanya hanya mereka yang sangat trampil, mereka melakukan pekerjaan khusus yang dibayar dengan sangat baik dan sering kali dikenakan pajak tinggi. Kerugian pendapatan pajak perusahaan juga mungkin signifikan.

Juga, dampak ekonomi yang dihasilkan jauh melampaui perusahaan itu sendiri. Relokasi dapat mengurangi permintaan akan layanan yang sangat khusus seperti nasihat hukum, perbankan, dan logistik yang semuanya memiliki efek negatif pada ekosistem ekonomi negara asal dan kemampuannya untuk menarik investor di masa depan.

Terakhir, relokasi sangat simbolis. Sementara beberapa bisnis memilih untuk pindah untuk menunjukkan komitmen ke wilayah baru (di mana pelanggan dan pesaing mereka yang paling penting berada), langkah ini pasti mengirimkan pesan yang berlawanan dengan negara asal mereka – negara yang tidak lagi sepenuhnya memenuhi kebutuhan akan investor dengan ambisi global. https://www.datasitus.com/

Kepercayaan investor sangat penting untuk membuat atau menghancurkan tujuan investasi, dan investor sering membuat keputusan mengikuti keputusan orang lain. Dengan ketidakpastian Brexit yang berkelanjutan, ada kemungkinan lebih banyak perusahaan akan memutuskan untuk pindah. Mereka yang mendirikan markas regional mereka di Inggris sebagai batu loncatan untuk ekspansi lebih lanjut di UE tidak diragukan lagi akan memikirkan perubahan, sementara banyak pemerintah UE melakukan yang terbaik untuk memikat mereka.

Amsterdam telah mengambil alih Sony dan Panasonic dengan iming-iming lokasi, daya saing dan kualitas hidup yang sangat baik. Dublin berharap untuk menarik investor AS melalui kesamaan bahasa, hubungan historis antara kedua negara, iklim investasi yang ramah dan keringanan pajak.

Berlin, ‘ibu kota’ bagi perusahaan start up di Eropa, berusaha menarik wirausahawan Inggris dengan pengaturan modal awal yang rendah, lembaga pendidikan tinggi dan infrastruktur yang baik, serta kumpulan talenta muda dan beragam. Paris bertujuan untuk memancing bank-bank internasional menjauh dari Kota London dengan melonggarkan peraturan.

Segera setelah referendum Uni Eropa, survei KPMG menunjukkan bahwa 76% dari 1.300 CEO yang disurvei di seluruh dunia ingin memindahkan kantor pusat perusahaan mereka. Meski beberapa pendapat CEO mungkin telah berubah sejak saat itu, sudah pasti ada kecenderungan baru-baru ini untuk memindahkan kantor pusat dari Inggris. Jika terlalu banyak perusahaan memutuskan untuk bergabung dengan mereka, mereka yang tertinggal akan menghadapi masa-masa yang mengkhawatirkan.

Teknik Kerja Sama Kinerja Milenial Pada Era Disrupsi Teknologi

Teknik Kerja Sama Kinerja Milenial Pada Era Disrupsi Teknologi

Asal usul sudah menulis kegagalan sebagian atasan pasar mengalami disrupsi teknologi. Jaringan bidang usaha penyewaan film terkenal, Blockbuster, ambruk serta terdesak menutup 129 tokonya pada dini 2013 sehabis berjibaku melawan kompetitor barunya semacam Netflix serta iTunes. Raksasa peritel novel Barnes& Noble pula kewalahan mengalami kompetisi terkini dengan gerai novel online semacam Amazon. com.

Disrupsi teknologi sudah menimbulkan keresahan untuk badan bidang usaha, tercantum bahaya kehancuran. Dalam 2 dasawarsa terakhir, kemajuan teknologi data serta komunikasi (TIK) sudah memperkenalkan pergantian elementer di bermacam pandangan kehidupan, tercantum dalam aplikasi bidang usaha modern.

Sebab itu, kemajuan ini tidak cuma menuntut badan bidang usaha modern menyesuaikan diri, tetapi pula mendesak mereka buat sedia beralih bentuk.

Teknologi, Kerja Sama, Serta Style Kegiatan Milenial

Dalam aplikasi badan bidang usaha modern, TIK bisa digunakan buat mensupport bermacam tradisi, metode kegiatan, serta komunikasi yang lebih efisien, paling utama mendukung keinginan kerja sama di dalam badan.

Laptop serta telepon pintar yang tersambung dengan internet mendukung bermacam kegiatan kerja sama virtual, misalnya dengan instant messaging, film conferencing, ataupun fitur yang lain. Perihal ini sudah membolehkan para pegawai bertugas serta berbicara dari posisi yang berbeda–bahkan pula buat memudahkan kerja sama garis besar.

Kerutinan bekerja sama virtual pula lengket dengan style kegiatan angkatan milenial yang memanglah lahir serta berkembang di masa teknologi digital. Mereka mempunyai keahlian yang lebih bagus dalam memakai fitur TIK. Pegawai dari angkatan milenial mengarah lebih menggemari area kegiatan dengan kebudayaan yang terbuka serta jam kegiatan fleksibel. Kerja sama efisien jadi kunci kesuksesan buat menuntaskan bermacam profesi.

Banyak badan bidang usaha saat ini berusaha meningkatkan area kegiatan yang cocok dengan kepribadian angkatan milenial. Ilustrasinya, Go-jek didominasi oleh pegawai dengan rerata umur 27 tahun. Industri ini meningkatkan adat kegiatan yang leluasa serta fleksibel, tidak memahami sebutan jam kantor. Mereka berikan ruang besar untuk karyawannya buat menuntaskan tiap profesi serta tanggung jawab mereka.

Pasti aplikasi semacam ini menuntut terdapatnya adat kerja sama yang berjalan efisien serta terpelihara dengan bagus. Walaupun style kegiatan milenial saat ini terus menjadi terkenal, butuh dicatat pula kalau tidak seluruh tipe profesi bisa dicoba dengan jam kegiatan semau batin, contoh pada jenis industri manufaktur dengan agenda penciptaan yang amat kencang.

Peter Studley di The Sydney Morning Herald, menerangi akibat disrupsi teknologi kepada guna bangunan perkantoran di era depan, spesialnya bagaikan ruang kerja sama buat kenaikan daya produksi. Beliau berkata akibat perkembangan TIK buat bekerja sama ini bisa kurangi ketertarikan raga pegawai pada sesuatu posisi ataupun tempat khusus.

Walaupun sedemikian itu, Studley senantiasa menekankan berartinya ketersediaan kantor bagaikan ruang kerja sama buat mempertemukan para pegawai dalam area kegiatan yang produktif lewat kombinasi penentuan posisi, konsep, serta sokongan TIK yang pas.

Eksploitasi TIK dalam kerja sama laiknya 2 bagian mata duit yang tidak terpisah. Kala menyangkut kenaikan daya produksi, hingga eksploitasi TIK merupakan bagian dari pemecahan. Di bagian yang lain, perihal ini sekalian jadi tantangan yang wajib dialami dalam usaha menciptakan kerja sama yang efisien.

Disrupsi Kolaborasi

Pada 2016, Rob Cross, Reb Rebele, serta Adam Grant menulis di Harvard Business Review

mengenai aplikasi kerja sama yang berlebih di dalam badan bidang usaha yang mengaitkan banyak kegiatan regu cetak biru. Para kolega efisien, ialah mereka yang mempunyai wawasan, daya, serta enteng tangan, hendak terus menjadi banyak dilibatkan dalam bermacam cetak biru berarti, walaupun kadangkala itu di luar profesi mereka sendiri.

Jumlah kerja sama yang efisien di dalam sesuatu badan umumnya cuma dicoba oleh beberapa kecil pegawai (3- 5%). Maksudnya, badan bidang usaha juga tidak banyak mempunyai kolega yang efisien. Dengan tutur lain, keahlian kerja sama yang dipunyai badan tidak menyeluruh alhasil kerja sama buat bermacam profesi yang berarti mengarah diberatkan ke banyak orang yang serupa.

Sebagian permasalahan setelah itu timbul. Dalam kesenjangan kegiatan yang berkepanjangan, para kolega yang efisien ini dapat saja berganti jadi halangan badan, terlebih bila mereka menggenggam andil yang lumayan berarti dalam manajemen. Keikutsertaan dalam bermacam kegiatan regu yang kelewatan yang diperoleh para kolega ini setelah itu mencadangkan sedikit durasi buat mereka melaksanakan profesinya sendiri.

Daya produksi mereka dengan cara orang menuntaskan profesinya jadi kecil sebab sedikitnya durasi serta fokus kegiatan yang tersendat. Usaha yang diharapkan bisa penuhi desakan kerja sama yang efisien buat tingkatkan kemampuan badan malah jadi bumerang yang melahirkan tantangan disrupsi kerja sama.

TIK bisa menolong kerja sama jadi lebih berdaya guna serta efisien, asal dipakai dengan cara pas serta cocok keinginan. Tetapi situasi yang sering timbul, para kolega efisien ini malah menghabiskan beberapa besar durasi kegiatan mereka buat menjajaki bermacam rapat( yang bisa jadi pula dicoba dengan cara virtual), menanggapi email, merespon catatan dari bermacam regu kegiatan lewat instant messaging serta banyak lagi interaksi kegiatan yang lain. Semua banyak aktivitas ini apalagi tidak tidak sering pula terbawa sampai di luar jam kantor.

Steve Price, Kepala HRD Dell Technologies, mengatakan hasil studi industri mereka kalau 60% dari pegawai Dell bertugas saat sebelum ataupun setelah jam kantor. Dari jumlah itu, dekat 2 pertiga pegawai Dell dengan cara garis besar melaksanakan sebagian hal profesi dari rumah dengan cara teratur. Pada umumnya pegawai menghabiskan paling tidak 2 jam per minggu buat menuntaskan tugasnya dari bermacam tempat biasa.

Strategi Hadapi Disrupsi Kolaborasi

Kelebihan bersaing sesuatu badan bidang usaha hendak terus menjadi tergantung pada daya produksi daya kerjanya. Tingkatan daya produksi ini didetetapkan salah satunya oleh efektifitas kerja sama.

Masa teknologi digital memperkenalkan cara- cara terkini buat bekerja sama dengan mengadopsi bermacam fitur TIK. Paling tidak terdapat 3 strategi yang bisa dipikirkan buat membenarkan kalau disrupsi kerja sama tidak jadi permasalahan yang membatasi kemampuan badan bidang usaha.

Awal, menata pola penyaluran kewajiban serta metode pengumpulan ketetapan. Kerja sama yang kelewatan menghasilkan badan mempunyai ketergantungan berkuasa pada para kolega efisien yang, sekali lagi, jumlahnya cuma sedikit. Tidak tidak sering setelah itu para kolega ini dilibatkan dalam bermacam kewajiban serta cara pengumpulan ketetapan yang sesungguhnya tidak senantiasa menginginkan kedudukan mereka.

Dalam pendekatan manajemen bidang usaha, terdapat programmed serta nonprogrammed decisions. Wujud ketetapan terprogram yang berhubungan dengan jenis kasus yang tertata serta teratur biasanya bisa ditangani oleh manajemen tingkatan dasar. Sebaliknya wujud ketetapan yang tidak terprogram berhubungan dengan kasus yang lingkungan serta tidak tertata, membutuhkan kedudukan manajemen di tingkatan taktis ataupun apalagi penting.

Metode pembagian kewajiban serta pengumpulan ketetapan bisa serta butuh diatur alhasil, dalam kondisi kerja sama, tidak merendahkan produktifitas para kolega. Fitur TIK serta pengembangan sistem data bisa dipakai buat menata penyaluran kewajiban serta pengumpulan ketetapan di dalam badan.

Kedua, menata jam kegiatan dengan agenda yang lebih fleksibel( bila membolehkan), paling utama buat berikan ruang kerja sama yang tidak kelu serta tidak wajib terpana cuma di dalam kantor. Perihal ini jadi estimasi berarti paling utama bila badan bidang usaha mempunyai bobot kegiatan yang intens serta kekuasaan pegawai milenial.

Bila tidak seluruhnya dapat terbuat fleksibel, jam kantor pula bisa diatur dengan membuat flextime policy yang dipadukan dengan kebijaksanaan core period, ialah memastikan jam khusus pada hari kegiatan. Misalnya, jam 9- 11 pagi semua pegawai harus terletak di kantor, alhasil keinginan rapat serta koordinasi langsung bisa dijadwalkan pada kurun durasi itu.

Ketiga, memilah teknologi yang pas dengan pemakaian yang pintar. Pemakaian TIK jadi pemecahan yang berarti buat mensupport kegiatan kerja sama alhasil para kolega bisa memprioritaskan profesi mereka, terlebih bila badan meresmikan jam kegiatan yang fleksibel. Keahlian konsumen buat menggunakan TIK dengan cara pintar pula memastikan gimana kerja sama virtual yang dijalani jadi lebih terencana serta terstruktur alhasil gampang buat ditunjukan, dimonitor, serta dievaluasi.

Apakah Pariwisata Virtual Dapat Menyelamatkan Bisnis Lokal Di Lokasi Wisata?

Apakah Pariwisata Virtual Dapat Menyelamatkan Bisnis Lokal Di Lokasi Wisata?

Bayangkan kamu dapat mendatangi pulau tropis cabai yang bagus di timur Indonesia dari kenyamanan kursi kamu lewat laptop ataupun ponsel pintar kamu.

Turis bisa bermukim di rumah sembari mencermati suara agen ekspedisi yang menarangkan wilayah setempat serta memandang tempat- tempat yang mereka datangi dengan cara virtual lewat gadget.

Dengan endemi COVID- 19 yang amat pengaruhi pabrik pariwisata garis besar, virtual tourism ataupun pariwisata virtual- penggunaan kenyataan virtual buat kegiatan pariwisata- telah menolong agen ekspedisi bertahan dari darurat, tetapi sayangnya, tidak banyak menolong buat usaha- usaha di destinasi pariwisata.

Pariwisata Virtual Menolong Melindungi Atensi Wisatawan

Pemisahan ekspedisi di sebagian negeri buat mengatur penyebaran coronavirus sudah memotong pemasukan ekspor dari pariwisata global sebesar US$730 miliyar. Jumlah penurunannya 8 kali bekuk lebih besar bila dibanding kala darurat ekonomi pada 2009.

Badan Pariwisata Bumi ataupun United Nations World Tourism Organization (UNWTO) memberi tahu kehadiran wisatawan global menyusut 79% pada Agustus dibanding rentang waktu yang serupa pada 2019 ataupun menurun dekat 700 juta kehadiran.

Negara-negara di semua bumi sudah memakai pariwisata virtual buat menolong mengimbangi gaya penyusutan ini.

Darmawisata virtual merupakan metode buat menjaga atensi turis pada sesuatu tujuan sepanjang endemi. Ini pula bisa menciptakan pemasukan buat pabrik, semacam buat pembimbing darmawisata serta gerai cenderamata.

Singapura Tourism Board sudah bertugas serupa dengan web semacam TourHQ serta Airbnb’ s Online Experiences.

Di Jepang, penguasa kota besar Tokyo menawarkan rekreasi online yang menunjukkan tempat- tempat darmawisata di Bunda Kota Jepang itu.

Tetapi, pariwisata virtual didesain buat tidak mengambil alih pariwisata konvensional, tetapi buat melindungi atensi turis sepanjang endemi alhasil kala suasana pulih mereka hendak terpikat buat kembali melancong.

Upaya Setempat Untuk Turut Serta

Searah dengan gaya garis besar, jumlah wisman yang bertamu ke Indonesia menyusut 88,9% pada September, jadi 153.498 dari 1,38 juta orang pada rentang waktu yang serupa tahun kemudian.

Bagus penguasa ataupun industri swasta di Indonesia sudah ikut serta dalam pariwisata virtual buat menolong menjaga atensi dari turis.

Departemen Pariwisata serta Ekonomi Inovatif belum lama ini mengadakan bermacam aktivitas virtual tourism semacam Geotourism Pergelaran 2020. Web ekspedisi terkenal, Traveloka, pula sudah mulai menawarkan pengalaman pariwisata virtual buat tujuan lokal serta luar negara.

Sebagian rekreasi virtual free, tetapi rekreasi dengan pembimbing biasanya hendak berbayar. Misalnya, rekreasi virtual Traveloka diawali dari Rp 50. 000 buat destinasi dalam negeri. Rekreasi ini hendak menciptakan pemasukan untuk industri rekreasi serta pembimbing.

Sebagian pemeran darmawisata dikabarkan sudah menggapai keberhasilan yang cukup. Ilustrasinya Jakarta Good Guide, yang dapat menarik hingga 100 partisipan dalam satu rekreasi.

Tetapi, rancangan ini mempunyai sebagian kekurangan. Misalnya, turis tidak butuh memesan penginapan buat menginap di penginapan serta memesan santapan serta minuman sembari menikmati destinasi mereka. Ini kurangi pengeluaran pariwisata, sekalian pula kurangi pengalaman serta perasaan turis kepada tempat-tempat yang mereka datangi.

Idealnya, virtual tourism tidak cuma menaikkan destinasi darmawisata tetapi pula kerajinan dari wilayah itu. Namun ini terkait pada agen ekspedisi yang menaikkan cenderamata dari tempat-tempat ini buat mensupport pedagang lokal.

Eksekutor dari Geotourism Pergelaran yang diadakan pada Juli sudah memakai metode ini.

Kegiatan itu mempunyai kedudukan virtual buat bidang usaha lokal. Salah satunya sukses menarik hingga 200 wisatawan serta konsumen dalam aktivitas itu.

Agen ekspedisi bisa menunjuk sebagian tempat yang mempunyai gerai online ataupun pasar online buat membeli bawaan lokal terkenal dari sesuatu tujuan serta mempromosikannya dengan cara virtual pada wisatawan.

Agen ekspedisi pula bisa berbicara dengan pedagang lokal orang, mengakulasi kerajinan mereka serta menaikkan cenderamata ini pada wisatawan lewat web website agen ekspedisi.

Sedangkan agen ekspedisi memperoleh manfaat dari pariwisata virtual, manfaat untuk pedagang lokal wajib lalu ditingkatkan.

Penguasa wajib menduga lebih banyak inovasi di pabrik pariwisata sebab endemi COVID- 19 tidak hendak pulih dalam durasi dekat.